Log in

I forgot my password

Who is online?
In total there is 1 user online :: 0 Registered, 0 Hidden and 1 Guest

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 16 on Wed Jul 24, 2013 1:29 am
December 2017
MonTueWedThuFriSatSun
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Calendar Calendar

Poll
Latest topics
» Selamat desu~
by Fatalite L. A. M. Equinox Wed Mar 23, 2011 4:39 pm

» Habis makan apa?
by Fatalite L. A. M. Equinox Wed Mar 23, 2011 4:38 pm

» Absensi [Sehari sekali]
by Fatalite L. A. M. Equinox Wed Mar 23, 2011 4:36 pm

» Lagi apa sekarang?
by Fatalite L. A. M. Equinox Wed Mar 23, 2011 4:36 pm

» Anna Tartarus Symphonia - Female - Genius
by Christella Vanadium Sun Jan 23, 2011 6:33 pm

» Lagi ngerasa apa?
by Juan Aquila Mon Jan 03, 2011 3:53 pm

» Halo semua?
by Juan Aquila Mon Jan 03, 2011 3:52 pm

» avac live chat
by Christella Vanadium Sat Jan 01, 2011 9:52 am

» Komentarin orang diatas ^o^/
by Christella Vanadium Sat Jan 01, 2011 8:55 am

» [FRP] Welcome to Vangeline
by Nanami Fri Nov 19, 2010 6:00 pm

Affiliates
free forum Nabari no Ou
Contacts
Ada pertanyaan? Langsung saja kontak sang admin

Caramel

zzzcielo

[Orific] Euforia - edited.

View previous topic View next topic Go down

[Orific] Euforia - edited.

Post by Lascivia Valiciano on Thu Oct 14, 2010 8:15 pm

Sendiri…

Tiada suara, tiada gerakan, bahkan nafas pun hampir tak terdengar. Hanya sesunggukan tangis yang ada. Tetes demi tetes air mata terjatuh, membasahi tanah yang menjadi pijak kaki. Pipi yang memerah, mata yang sembab, gigi yang menggigiti bibir, seorang gadis sedang menangis sedih. Tidak ada yang terjadi, tidak ada cerita, hanya kegundahan hati. Merenung penuh arti, hingga akhirnya menangis. Bukan menangis sedih, tapi menangis atas ketidak sanggupan.

Tidak ada waktu, tidak ada masa depan, tidak ada masa lalu, hanya ada masa sekarang. Tidak perlu berpikir apa yang terjadi, meski besok akan menjadi buruk. Seandainya dunia ini dapat diperlakukan semudah itu, maka hal-hal tidak akan pernah menjadi rumit. Atas hal itulah sang gadis termenung sambil menangis. Tak lagi tahu harus melakukan apa, ia tak lagi sanggup hidup dalam jurang yang dalam. Hatinya terasa kosong, meski ia dapat tertawa. Tampak normal, tapi sebenarnya telah hancur. Air mata itu kian lama kian deras, membuat nafasnya sesak.

Dibayangkannya langit biru nan luas. Dihiasi awan putih yang nampak lembut. Padahal di atas sana, kau tak akan dapat bernafas, yang ada hanyalah terbang sebentar, penuh dengan kebebasan, tapi akhirnya jatuh dari ketinggian dan mati mengenaskan. Meski begitu, euforia yang terdapat saat berhasil terbang, tampak sesusai dengan harga yang harus di bayar nantinya. Namun, ia tak segila itu untuk terbang dan terjatuh. Bukan itu yang ia mau. Meski ia melakukan hal itu… hatinya masih akan tetap kosong.

Terdengar suara pintu kamar di ketuk seseorang…. sang gadis tetap diam tak bergeming. Tidak ada yang dapat ia hiraukan. Ia hanya ingin keluar dari kenyataan. Pengecutlah ia! Untuk kabur, tapi hal itu…. terasa sangat menggoda. Saat bunyi berderit pintu terdengar, pandangannya tetap kosong. Sang gadis hanya bisa menatap ke langit-langit kamarnya. Air mata masih berada di sana, tak kunjung juga mengering. Meski sesosok manusia duduk di sebelahnya, ia tetap tak terbangun dari lamuannya. Hanya menangis dan menangis. Hingga akhirnya, terdapat kehangatan di sekujur tubuhnya, barulah ia menoleh pada orang yang memeluknya.

Tak mengucapkan sepatah katapun. Sang gadis pun menangis dalam pelukan hangat itu. Perasaannya berkecamuk hebat. Hatinya terasa kosong dan sakit. Pikirannya melayang-layang memikirkan hari esok. Meski besok adalah hari yang terindah dalam hidupnya, ia tak ingin hari ini berakhir. Biarlah waktu terhenti di sini untuknya. Terhenti tepat satu menit sebelum esok hari datang. Hanya itulah harapannya, hanya itulah keinginannya. Ia hanya ingin semuanya berakhir, karena tak lagi tahan menjalani kehidupan. Meski sebenarnya, tiada sebab jelas akan perasaan itu.

Membiarkan kepalanya terasa pening, dan tubuhnya terasa lemas, tangisnya mulai berhenti. Hanya ada perasaan tak enak yang menusuk-nusuk batinnya. Tidak ada suara, tapi ia bisa membayangkan musik sedih mengalun bersamaan dengan sakit hati yang ia rasakan. Terbayang juga kata-kata yang dapat mengekspresikan kesedihannya. Tak disadari, dirinya mulai meleleh oleh kehangatan. Perasaan sakit, sedih, yang berkecamuk, kini melebur menjadi satu memori yang penuh kelegaan.

“Pergilah”,

Suaranya parau, khas orang yang habis menangis lama. Matanya yang merah, menatap pupil mata orang yang sembari tadi memeluknya. Ia tak ingin berbicara, hanya ingin menikmati keheningan dan sensasi lega selepas menangis. Ia tak menginginkan hari esok tiba, tapi tak ada yang dapat ia lakukan. Apa yang ada, adalah ia harus menerima kenyataan apa adanya.
Pemuda di depannya tak beranjak pergi. Hanya melepaskan pelukan dan duduk di sebelah sang gadis. Merasa kesal karena tidak di dengarkan, sang gadis pun mulai berbicara lagi.

“Mengapa tak pergi?”

Hanya ada gelengan lembut sebagai balasan. Sang gadis pun menghela nafas, dan memandangi langit-langit kamarnya yang sempit. Membiarkan pemuda itu berbuat semaunya. Toh, sebenarnya, ia tak punya hak untuk memerintah.

Dihilangkan semua hal yang ada. Otaknya berusaha menciptakan ilusi, di mana kamarnya itu adalah padang rumput hijau nan indah, dan langit-langit kamar yang berwarna putih kusam, adalah langit biru beserta awan, di mana matahari juga bersinar dengan cerahnya. Membayangkan bahwa udara pengap di sana adalah udara segar yang membawa harumnya bunga segar pagi hari.

Ilusi, tapi terasa sangat nyata. Dalam keheningan inilah, ia bisa membayangkan semuanya. Biarlah, tak perlu nyata, ia hanya perlu tahu bagaimana rasanya. Cukup seperti itu. Ada batasan pada seorang manusia berdosa untuk merasakan kebahagiaan mereka, dan ilusi indah adalah batasan untuk sang gadis. Namun, ia tak mempedulikan hal itu. Apa yang dilakukannya adalah menikmati ilusinya, membiarkan dirinya ditarik pergi dari kenyataan yang di sodorkan kehidupan. Sekali ini saja, ia merasa bebas…

“Apa yang kau lakukan?”

Tersenyum sekilas, gadis itu masih memandangi langit-langit kamar dengan pandangan mata yang kosong tapi terlihat menikmati.

“Membayangkan…”

“Apa yang terbayang?”

“Diri ini, di surga,”

“Surga macam apa?”

“Di surga, di mana tak ada kenyataan pahit.”

Pemuda itu hanya menggeleng tak percaya. Gadis itu bermimpi terlalu muluk tampaknya. Dunia akan terus terasa pahit. Kebahagiaan itu ada, tapi mereka cepat hilang. Hal yang selalu menoreh hati adalah kesedihan. Percuma untuk kabur dari perasaan itu. Apa yang bisa dilakukan adalah menerima semuanya. Namun, gadis disebelahnya itu tampaknya tak tahan lagi dengan menerima.

“Apa yang kau harapkan?”

Pertanyaan yang akan dijawab dengan muluk. Paling tidak, itulah yang dipikirkan sang pemuda. Biarlah gadis itu terus bermimpi, supaya esoknya, ia dapat tetap menjaga kewarasannya dan menghadapi hidup.

“Tak tahu, aku hanya ingin merasakan kebahagiaan tiada akhir…”

“Hal itu hanya ada di dongeng-dongeng,”

“Maka…. buatlah hidupku menjadi dongeng!”

Mata sang pemuda membelak pelan dalam ketidak percayaan. Tak ada dongeng di dunia! Dongeng adalah cerita yang terdapat di buku-buku, dikarang oleh orang-orang yang berharap akan kesempurnaan hidup. Apa yang ada di dunia nyata…. hanyalah sejarah penuh dengan intrik-intrik kehidupan. Kau hanya dapat merasakan kesempurnaan hidup saat kau meninggal. Kau tahu mengapa? Dalam hidup, kejadian-kejadian yang ada hanyalah puzzle yang hanya akan lengkap saat kau mati nanti. Lalu, apakah gadis itu mengharap…. mati? Rasanya tidak begitu. Gadis itu hanya menginginkan kebahagiaan.

Sebuah senyuman pun di lontarkan pemuda itu pada sang gadis.

“Bermimpilah…”

Sang gadis hanya menggangguk senang. Keheningan pun tercipta lagi. Namun, keheningan ini terasa nyaman dan hangat. Sang pemuda hanya dapat menatap orang di sebelahnya sambil tersenyum lembut. Mata gadis itu tak lagi terfokus pada apapun. Pikiran yang telah menembus ruang dan waktu. Melayang dan bebas, gadis itu tak lagi ada dalam kenyataan. Ya, sang gadis telah pergi terbang dalam impian…

Tak lama pun, mata sang gadis menutup, dan kepala itu terjatuh di pundak pemuda di sebelahnya. Kini, saat fajar datang, semuanya akan kembali normal. Tidak ada yang akan terjadi, tapi ada kelegaan di hati. Ya, itu saja sudah cukup…

Apa yang kau inginkan? Dunia dapat memberimu barang fana. Apa yang kau senangi? Dunia dapat memberimu adiksi semata. Apa yang kau harapkan? Dunia dapat memberimu delusi sekelibat. Apa yang ingin kau rasakan? Dunia dapat memberimu cinta dangkal.

Namun kini… apa yang kau inginkan, diberikan padamu. Tidak fana, tidak mortal, tidak juga semata… Ada namun juga tiada. Apa yang diharapkan akan dikabulkan, bukan delusi, namun juga bukan nyata. Apa yang ingin dirasakan, akan tiba… sekarang namun juga tidak selamanya…

Inilah hidup, memberikan apa yang kau harapkan. Tanpa tahu bahwa kau sendirilah yang harus mengabulkan keinginan itu. Menentukan jalan setapak mana yang harus dipijak. Inilah hidup, sebuah ketidak puasan yang membentuk cerita pada akhir nyawa. Sebelum tepat putus sudah senggang nyawamu, hal apa yang akan kau katakan? Puas… atau tidak?


_________________
"Of this is my soul, I hereby declare this freedom,"

Credit : Syn.Theadeus
avatar
Lascivia Valiciano
RP Staff

Jumlah posting : 234
Points : 13
Birthday : 1997-06-18
Join date : 2010-10-09
Age : 20

Character sheet
Name: Lascivia Valiciano
Umur: 14
Tipe Murid: Esper

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum